Belajar di Singapura

Pengalaman Saya Belajar di Singapura

Banyak sekali orang-orang di Indonesia yang bercita-cita untuk belajar di luar negeri. Beruntung bagi saya sewaktu SMA mendapatkan kesempatan untuk melakukan pertukaran pelajar dengan salah satu SMA swasta ternama di Singapura.

Waktu itu saya masih kelas 1 SMA dan pergi keluar negeri adalah salah satu pengalaman yang sangat baru bagi saya.

Perasaan saya begitu campur aduk, antara harus senang, atau takut karena belum pernah keluar negeri.

Tetapi, saya tetap berusaha untuk tenang, karena tau itu akan menjadi pengalaman berharga buat saya.

4 Keluh Kesah Saya Belajar di Singapura

Belajar di Singapura

  • Perbedaan Bahasa

Ini adalah permasalahan yang paling besar untuk saya. Sewaktu itu bahasa Inggris saya masih setingkat yes no yes no saja.

Jadinya tiba-tiba pergi ke sekolah yang menggunakan bahasa inggris, dimana guru-guru, bahkan teman-teman semuanya berkomunikasi dalambahasa inggris, membuat saya panik tidak terhingga.

Ingin berbicara dengan mereka, tetapi tidak tau bagaimana caranya.

Akhirnya ya mau tidak mau, saya memperdalam terus bahasa inggris saya hingga bisa berkomunikasi sama mereka dengan baik.

  • Harga-Harga Mahal

Semua harga barang-barang disana bisa 3-4 kali lipat Indonesia. Saya ingat berusaha membeli makan siang diĀ food court dekat sekolah dan harganya $5 atau kurang lebih Rp 35.000 pada saat itu.

Waktu saya masi SMA, uang 35.000 Rupiah bisa saya gunakan untuk makan di sekolah selama 1 minggu. Hitungannya 1 mangkok bakso 5.000 ditambah 1 teh botol sosro seharga 2.000.

Jadinya waktu itu saya sangat syok dengan perbedaan harga yang mereka miliki.

  • Banyak Jalan

Kalau di Indonesia, kemana-kemana pasti langsung nyalakan kuda besi dan siap-siap meluncur ke tempat destinasi.

Tetapi, hal itu berbeda dengan sewaktu saya kuliah di Singapura.

Saya waktu itu tinggal di salah satu rumah sodara yang tinggal di negeri singa tersebut. Sewaktu mau ke sekolah, saya minimal harus jalan kurang lebih 1 kilo sebelum sampai ke tempat berhenti bus.

Setelah itu saya harus naik bus ke sekolah selama kurang lebih 30 menit.

Hal tersebut saya lakukan setiap hari senin sampai minggu selama kurang lebih 1 tahun lamanya.

  • Kangen Makanan Indonesia

Walaupun lokasi Singapura masih berdekatan dengan Indonesia, nyatanya banyak sekali makanan Indonesia yang tidak dapat ditemukan disini.

Kalaupun ada, rasanya sangat berbeda sekali.

Makanan Indonesia disini rasanya lebih ke Malaysia dibandingkan Indonesia.

Jadi ingat waktu itu kesusahan mencari martabak manis hingga akhinya mencari resepnya di Google untuk buat sendiri. Hahaha..

Leave a Reply

css.php
Skip to toolbar